Sunday, December 31, 2006

Gaya

Gaya itu penting. Iya gak sih? Sapa orang yang gak pengen [tampil] gaya, misalnya? Rasanya hampir gak ada. Apalagi buat perempuan, gaya mungkin merupakan salah satu hal yang paling penting. Tolong koreksi kalau salah, bukan berjenis kelamin perempuan soalnya, hehe... Se-nggak pengennya seseorang tampil gaya, hampir pasti sesedikit-sedikitnya ada unsur pengen gayanya juga.

Gaya banyak dihubungkan dengan macem-macem hal. Mulai dari pakaian, potongan rambut, bicara, nulis, sampe ke hal yang paling privat sekalipun. Banyak lah pokoknya. Umumnya gaya berkaitan dengan fashion, style, mode, trend, dan yang sejenisnya.

Gaya yang ditampilkan juga dipengaruhi sifat seseorang, bisa diliat dari gaya inner, cara berbicara misalnya, atau gaya outer seperti cara berpakaian. Gaya, langsung atau tidak langsung, mencerminkan personality. Sekarang malahan gaya bisa jadi trade mark seseorang.

Banyak ungkapan yang berkaitan dengan gaya, diantaranya:
"Gaya thok!" – ini yang sering didenger waktu di Malang dulu, yang artinya mungkin bisanya cuma bergaya doang.
"Gaya lu!" – kata-kata yang lumayan sering terlontar ke seorang temen yang hobinya nangkring di tempat tertentu. Jangan protes ya kalau kebetulan baca dan jangan sampe mempengaruhi proyek, hahaha...
"Kebanyakan gaya!" – biasanya ditujukan buat orang yang suka overacting.
"Gayanya gak meyakinkan..." – kalimat yang muncul kalau meragukan kemampuan seseorang.
"Yang penting gaya!" – umumnya diucapkan orang-orang yang fokusnya ke penampilan. Dan masih banyak lainnya.

Istilah gaya yang pake bahasa Inggris juga ada, salah satunya cooking with style. Masak gaya-gayaan gitu maksudnya? Atau masak masakan gaya? Mbuh ah. Ada lagi
fashionista. Pengikut gaya yang nista? Atau pengikut gaya nista? Mbuh juga, hehehe...

Penulis blog juga punya gaya masing-masing, sesuai background atau personality. Dari tampilan sampe isi. Untuk tampilan misalnya, beda antara penulis yang punya latar belakang ilmu teknologi informasi (formal/non formal) dengan yang enggak gampang diliat. Dari segi isi, kepribadian penulis keliatan dari gaya tulisannya. Mulai dari yang kreatif dan imajinatif sampe yang membosankan (sorry). Entar kapan-kapan mau nulis beberapa blog yang jadi favorit selama ini, tapi cuma dari segi isi aja. Kurang begitu tertarik sama tampilan soalnya.

Saking pentingnya gaya, sampe-sampe ada tuh sekolah yang pelajarannya melulu soal gaya. Ada gaya makan, gaya jalan, gaya duduk, gaya berenang, gaya tidur, dan barangkali juga gaya k****t. Semua dipelajari secara mendetil.

Gaya yang belakangan juga cukup sering disebut yaitu gaya kepemimpinan. Karena ada pemimpin yang mau ganti gaya di tahun depan. Ganti tahun ganti gaya. Biar up-to-date, nggak old-fashioned. Meskipun nggak selamanya old-fashioned itu jelek. Gaya Tony Manero contohnya :-p

Yang jadi pertanyaan, sampe seberapa jauh atau seberapa ekstrim sih seseorang bisa ganti gaya? Karena setiap orang punya gaya standar yang udah built-in. Orang yang punya dasar sifat pemalu misalnya, apa iya bisa bergaya seperti orang yang pada dasarnya punya rasa percaya diri yang tinggi? Biar kata udah dilatih terus-menerus. Dan kalaupun bisa, berapa lama waktu yang dibutuhkan? Jelas nggak akan secepat bikin mie instan.

Tapi, pake gaya apapun sebetulnya nggak masalah, masih tetep populer kok, setidaknya begitu kata survei, hehe... mengingat orang-orang lebih menyukai gaya ketimbang performa. Kan yang penting gaya ;-)

Musim juga mempengaruhi gaya. Di belahan bumi lain kayak di Amerika sana, gaya di musim dingin beda dengan gaya di musim panas, musim semi, atau musim gugur. Kalau di Indonesia kurang jelas, gaya musim hujan beda nggak ya dengan gaya musim kering? Yang agak lebih jelas mungkin gaya musim bencana, nggak peduli musim kering atau musim hujan, sama aja :-p


Gaya musim bencana tuh sepertinya rehabilitasi dan rekonstruksi yang lambat, penyaluran/distribusi bantuan yang [selalu] terlambat, atau bantuan yang menguap di tengah jalan, dan banyak gaya lainnya. Memang cukup susah untuk didefinisikan dalam kalimat singkat, gara-gara saking banyaknya faktor yang terlibat di gaya ini. Kalau diibaratkan film, ending-nya happily [n]ever after, hehe...

Gaya Jakarta lain lagi, gaya macet banget udah jadi trade mark. Setidaknya untuk tahun 2006 yang mau selesai ini. Untuk tahun 2007, bakal ditambah gaya banjir kali. Asal nggak ketambahan gaya lumpur aja kayak di Sidoarjo :-p

Musim haji juga nggak kalah gaya, sekarang ada gaya kelaparan. Entah nanti ada gaya apa lagi. Gak tau deh.

"Jadi, gaya apa yang nge-trend tahun depan?"
"Bloggie style."
"...?????" *mati gaya*