Monday, January 15, 2018

The First Two Chapters

Beberapa hari lalu sempat nonton Insidious dan Insidious: Chapter 2 di tivi. Film yang bertema horor. Kedua film ini berhubungan, Insidious: Chapter 2 adalah kelanjutan dari Insidious. Meskipun masing-masing bisa ditonton sendiri-sendiri tapi film pertama mengisahkan bagaimana kisah di film kedua bisa terjadi, jadi untuk mengetahui alur kisahnya secara lengkap diperlukan untuk menonton keduanya.

Film yang pertama berkisah soal Dalton Lambert yang mempunyai kemampuan jiwanya dapat berkelana pada saat tidur. Persoalannya, secara singkat, adalah jiwanya berkelana terlalu jauh dan kemudian tersesat sehingga tampak seperti mengalami koma. Yang dapat mencelakakan adalah tubuhnya dapat digunakan oleh jiwa lain yang tau jika tubuh Dalton sedang ditinggalkan oleh jiwanya. Ayah Dalton, Josh Lambert, ternyata juga mempunyai kemampuan serupa.

Di film kedua, diketahui ternyata tubuh Josh bukan berisi jiwanya sendiri tetapi telah disusupi oleh jiwa lain pada saat jiwa Josh meninggalkan tubuhnya untuk mencari Dalton, sehingga berakibat pada jiwa Josh tidak dapat kembali ke tubuhnya. Bagaimana cara agar jiwa Josh dapat kembali ke tubuhnya menjadi kisah dari filmnya.

Belum bisa membayangkan gimana jiwa seseorang bisa berkelana, akan tetapi kalau ada jiwa lain yang berusaha untuk menguasai tubuh kita masih bisa dimengerti, kayak kesurupan gitu atau di level yang lebih ringan yaitu yang dalam bahasa Jawa sering disebut dengan tindihan atau istilah lainnya sleep paralysis.

Belum pernah mengalami kesurupan tapi kalau tindihan pernah, dua kali semasa masih di Sekolah Menengah Atas. Yang pertama saat ketiduran di sofa selagi belajar, jadi ruangan dalam kondisi terang benderang karena lampu menyala. Yang kedua terjadi pada saat tidur di kamar dengan kondisi gelap. Jarak antara tindihan pertama dan kedua nggak begitu lama.

Yang dialami pada saat tindihan ya seperti yang udah sering dibahas diberbagai artikel, seluruh tubuh menjadi terasa lemas sehingga nggak bisa digerakkan. Mau berbicara, apalagi teriak, juga nggak bisa karena nggak bisa bersuara. Tapi pikiran tidak terpengaruh, jadi masih bisa memikirkan apa yang sekiranya harus dilakukan. Saat itu yang dilakukan untuk dapat memulihkan diri yaitu dengan menendang-nendangkan kaki. Nggak langsung tapinya, pada awalnya mencoba berbagai cara seperti berusaha menggerak-gerakkan tangan hingga berteriak, cuma ternyata nggak efektif. Saat mengalami tindihan kedua, karena udah ngerti dan memang efektif, langsung menendang-nendangkan kaki.

Perbedaan antara tindihan pertama dan kedua yang dialami yaitu pada tindihan pertama merasa seperti berada di area pekuburan dan juga seperti mendengar suara jangkrik yang semakin lama semakin keras. Saat tindihan kedua nggak mengalami hal tersebut tetapi sebelum tindihan seperti melihat asap putih dari arah atas yang merasuk ke dalam tubuh, dan membatin, waduh tindihan lagi nih.

Seperti yang juga cukup banyak dibahas di artikel soal tindihan, mengalami tindihan pada saat tidur dengan posisi telentang. Jadi supaya tidak mengalami tindihan diusahakan tidur tidak dengan posisi telentang. Sesaat setelah mengalami tindihan kedua lalu membalik bantal yang digunakan untuk tidur karena ada yang mengatakan untuk membalik bantal yang maksudnya yaitu mencegah terjadinya kembali mengalami tindihan. Nggak tau juga dasar ilmiahnya gimana tapi menuruti perkataan itu dan memang belum pernah lagi mengalami tindihan setelahnya. Hingga sekarang, simply... aman-aman aja.

Ke filmnya lagi, hingga saat ini udah ada film serial Insidious yang keempat sih, yang paling anyar, Insidious: The Last Key, dan lagi tayang di bioskop. Belum nonton tapinya. Cuma bukan sekuel melainkan prekuel, seperti yang ketiga, Insidious: Chapter 3. Berminat untuk nonton kalau nggak males, hehe... ;-)

Tuesday, January 09, 2018

[4] 'Livin' a Dream'

Mau ngebahas lagi soal waktu masih di Amerika dulu. Satu hal lagi yang juga pernah dilakukan di Amerika selain naik limo adalah nonton dua film di bioskop hanya dengan membayar satu tiket. Nonton lebih dari dua film juga bisa.

Sempat nonton lebih dari satu film dengan satu karcis saat di Covina, setelah pindah ke Troy belum pernah nonton lebih dari satu film dengan satu karcis. Tau bisa nonton lebih dari satu film dengan hanya menggunakan satu karcis dari temen di LCP yang juga pernah nonton lebih dari satu film dengan satu karcis. Menurut temen itu menonton lebih dari satu film dengan hanya satu karcis dibolehkan meskipun movie hopping bisa dianggap ilegal. Syarat melakukan movie hopping nggak sulit, yaitu jangan meninggalkan area teater karena kalau meninggalkan area teater maka harus membeli tiket lagi untuk bisa masuk ke area teater.

Berbekal informasi dari temen tadi, dengan beberapa temen dari LCP juga lalu bersepakat untuk melakukan hal tersebut. Dan ternyata bener, setelah selesai nonton film pertama bisa nonton film yang lain lagi tanpa harus membeli tiket lagi. Hanya perlu nunggu hingga film yang akan ditonton berikutnya dimulai. Hal ini dimungkinkan juga karena seluruh teater berada di satu area dengan satu tempat masuk, sehingga nggak diperlukan pemeriksaan di setiap teater. Selain itu nggak ada penomoran kursi jadi nggak akan bentrok jika ada penonton yang memang membeli tiket untuk pertunjukan itu. Saat nonton itu kebetulan di teater yang dimasuki penontonnya nggak banyak jadi aman-aman aja. Akan jadi persoalan jika seluruh tiket untuk pertunjukannya terjual semua karena akan ada yang tidak mendapatkan tempat duduk kecuali tempat duduknya bernomor.

Merasa beruntung berkesempatan melakukan movie hopping, meskipun juga dianggap ilegal, oleh karena, simply... mendapatkan suatu pengalaman yang langka.

Juga, dengan bahasan ini maka serial tulisan 'Livin' a Dream' sekaligus diakhiri. Dengan catatan, akan dilanjut lagi jika ada bahasan yang sesuai, hehe... :-p

Monday, January 01, 2018

"Something"

Sebagai awalan di tahun 2018, mau ngebahas soal lagu yang lagi cukup sering disimak beberapa waktu ini. Lagunya berjudul "Something" dari The Beatles, albumnya Abbey Road. Kalau buat The Beatles-nya nggak usah dibahas lah ya, sepertinya di dunia ini nggak ada yang nggak tau soal The Beatles yang adalah 'the best-selling band in history'.

"Something" bukan lagu yang ditulis oleh John Lennon ataupun Paul McCartney yang merupakan penulis utama lagu-lagu The Beatles tapi oleh George Harrison. Lagunya sendiri adalah yang kedua terbanyak dari lagu-lagu The Beatles yang juga dibawain oleh penyanyi lain setelah "Yesterday". Versi yang paling disuka George Harrison buat lagunya adalah yang dari James Brown. Menurut Frank Sinatra, lagu "Something" adalah 'the greatest love song of the past 50 years'. Sungguh wow! Untuk selengkapnya, bisa dibaca di wikipedia soal "Something" ini.

Kalau George Harrison suka dengan versinya James Brown, as for myself, suka dengan versinya Sarah Vaughan yang dari albumnya Songs of The Beatles. Langsung suka sejak pertama tau. Taunya udah lama sih, saat masih di kelas dua Sekolah Menengah Pertama, karena kakak sepupu punya kasetnya. Suka karena musiknya yang simple, nggak ribet buat disimak. Menggunakan bahasa liriknya, 'and all I have to do is think of her', simply... nggak usah repot-repot, hehe... ;-)